Tumbal dan Mitos Kekuasaan Dalam Gelaran Pemilu 2019 (Bagian 1)

Tumbal dan Mitos Kekuasaan Dalam Gelaran Pemilu 2019 (Bagian 1)

Gelaran pemilu 2019 menyisakan duka mendalam bagi rakyat Indonesia. Betapa tidak, baru kali ini hajatan pemilu bisa sampai menumbalkan ratusan nyawa manusia. Ya, mereka adalah anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang gugur dalam tugas mengawal pesta demokrasi lima tahunan.

Berdasarkan data KPU per-Sabtu (4/5/2019), jumlah petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang meninggal sebanyak 440 orang. Sementara petugas yang sakit 3.788 orang. Jumlah ini bisa jadi akan terus bertambah.

Melihat besarnya jumlah korban, tak salah apabila ada pihak-pihak yang melihat kejadian ini bukanlah suatu hal yang biasa. Ya, ‘biasa’ dalam artian tidak perlu menaruh curiga adanya unsur-unsur kegaiban yang ikut ambil bagian di belakang layar. Padahal, dalam pandangan dunia batin, setiap peristiwa besar yang terjadi di negeri ini dapat selalu diterawang dan diterjemahkan lewat sudut pandang mistik.  

Sebagai contoh, dulu zaman SBY, kubu oposisi menuduh banyaknya bencana sebagai tumbal kekuasaan. Kubu pro SBY tentu membantah: jangan kait-kaitkan bencana dengan mistis.

Kini di zaman Jokowi bertahta, isu mistik tentang bencana pun mengemuka dan muncul pula cerita tentang tumbal kekuasaan. Bahkan, terkait dengan banyaknya jumlah korban dalam gelarang Pemilu isyu yang sama pun menyeruak. Namu kali ini, kubu oposisi(?) bilang: Itu tumbal kecurangan Jokowi. Adapun kubu penguasa kali ini giliran membantah: jangan kaitkan bencana dengan mistis.

Tetapi kita tak perlu lelah berdebat mencari kebenaran. Apalagi kebenaran berbungkus mistisisme pastinya  memang jauh dari nalar ilmiah. Namun demikian kita juga tak perlu merasa alergi ketika banyak orang menghubungkan bencana-bencana yang terjadi, tak terkecuali dengan jatuhnya korban Pemilu sebagai mitos, yang bahkan disebutkan sebagai tumbal kekuasaan.

Kalau kita renungkan sejenak, mitos kekuasaan memang selalu erat kaitannya dengan kekuasaan yang menghendaki adanya tumbal demi kekuasaan itu sendiri. Alam pikiran tumbal sebenarnya semacam persembahan kepada dunia tidak kasat mata. Dunia gaib.

Mengapa
itu terjadi? Setidaknya sejarah alam pikiran bangsa Indonesia memang sangat
erat berkait dengan dunia mitos semacam itu mengingat kita dibentuk dalam
kerajaan-kerajaan yang sangat bergantung pada alam pikiran kosmos. Maklum saja,
sebelum ditemukan sarana-sarana modern, mitos menjadi salah satu cara manusia
mempertahankan diri. Celakanya kepercayaan ini masih tetap hidup di
tengah-tengah modernitas.

No Responses

Leave a Reply