Suamiku Jadi Korban Tumbal Pesugihan

Suamiku Jadi Korban  Tumbal Pesugihan

Ayam jago berbulu putih mulus itu kakinya diberi cincin uang. Suamiku tak tahu kalau ayam itu sengaja dibuang orang sebagai tumbal pesugihan.

Oleh : Zenitha Maharani.

Pulang dari Pasar Ciawi, aku dikagetkan oleh kerumunan orang yang tak jauh dari rumahku. Beberapa diantaranya aku kenal dengan baik, ada tetanggaku dan tukang ojek yang tengah berbincang-bincang mengerumuni sesuatu yang belum jelas aku ketahui. Tapi aku yakin ada yang istimewa di sana karena tak biasanya mereka berkerumun tepat di depan gang rumahku.

“Mang Dadang, ada apa sih kok rame banget?” Tanyaku pada seorang tetangga yang nampak di tengah kerumunan itu.

“Itu si Adul nemu ayam jago warna putih. Tapi kakinya diikat uang seratus ribuan,” jawabnya.

Aku masih tak mengerti apa yang dimaksud mang Dadang. Kok ada ayam jago kakinya diikat uang.

Untuk memuaskan rasa penasaran, aku turun dari motor dan memasuki kerumunan itu. Aku lihat si Adul, tukang ojek yang memang aku kenal itu tengah menggendong seekor ayam jantan berbulu putih mulus. Memang tak ada yang aneh dari ayam jantan itu. Seperti ayam jantan pada umumnya memiliki jengger merah panjang, berbadang tegap dan bertaji.

Namun setelah aku bertanya sana sini, akhirnya aku tahu kalau di kaki ayam jago itu ada uangnya. Ikatan uang itu dibuat amat rapi dengan dibalut plastik bening dan plester. Adul yang tengah berbincang dengan beberapa orang diantara para pengerumun itu aku lihat terus tersenyum dan sesekali mengeryitkan dahinya.

“Dul ayam dari mana itu?” Aku bertanya pada Adul

“Pak, ini dapat nemu dekat tempat sampah itu,” jawabanya sambil menunjuk bak sampah di pinggir jalan.

“Memang ada apa di kakinya?” Tanyaku lagi.

“Ini ada uangnya seratus ribu Pak. Tadi sudah saya buka ikatannya ama temen-temen. Tapi mereka minta agar uangnya dilipat lagi dan ayamnya dilepas. Katanya ayam ini aneh,” jelas Adul.

“Iya Dul, lepas saja. Salah-salah itu ayam buangan orang yang mencari tumbal pesugihan,” komentar seseorang yang tak aku kenal.

Tapi nampaknya Adul menolak. Lelaki ini memang dikenal berani dan agak urakan. Profesinya sebagai tukang ojek juga banyak ditakuti di sekitar pangkalan ojek itu lantaran hoby Adul yang suka bikin ribut dan berkelahi.

“Iya Dul, lepas saja ayam itu, kembalikan ke tempat sampah daripada kamu jadi tumbal pesugihan orang lain. Aku yang tinggal di sini saja tak pernah melihat ayam itu. Apalagi ada uangnya, aneh kan,” aku memberi saran pada Adul.

Jujur saja dalam hatiku saat itu memang terbersit rasa aneh. Mengapa ada ayam jago warna putih di sekitar bak sampah itu. Padahal sehari-hari aku sendiri tak pernah melihat ada ayam jago warna putih di sana. Apalagi diberi cincin uang seperti sengaja dibuang agar diambil orang.

Tapi Adul yang sok jago itu sekali lagi menolak. “Aku akan bawa ayam ini ke rumah. Kalo perlu aku sembelih ayam ini untuk makan bersama anak istriku,” jawab Adul sambil berlalu.

Setelah itu aku tak tahu lagi apa yang terjadi dengan ayam jantan dan si Adul itu. Rumahku dan rumah Adul memang agak jauh jaraknya. Kalau pun bertemu dia, aku paling bertemu di pangkalan ojek karena pangkalan itu memang kerap aku lalui setiap hari hendak berangkat kerja.

Sepuluh hari kemudian, aku mendengar kabar Adul meninggal dunia di rumahnya. Adul yang sehat dan gagah itu meninggal di atas tempat tidurnya tanpa diketahui siapapun.

“Pagi itu aku hendak membangunkan Kang Adul, sambil melihat kondisinya. Tapi alangkah kagetnya karena waktu aku gerakkan tangannya sudah kaku,” jelas Aminah istri Adul yang aku temui di rumahnya.

Lalu kami berbincang-bincang ngalor ngidul untuk menghibur keluarga almarhum yang ditinggalkan. Aku memang cukup akrab dengan Adul dan keluarganya. Meski terbilang galak, tapi Adul adalah orang yang konsisten dan tidak pernah neko-neko. Ia setia pada kawan dan sangat menghargai pertemanan.

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aminah lalu menceritakan kalau Adul pernah membawa seekor ayam jantan berbulu putih saat ia pulang ngojek. Malam itu Adul juga memberi Aminah uang seratus ribu, katanya untuk masak. Lalu esok harinya Adul menyembelih ayam itu untuk dimakan.

Tiga hari kemudian Adul mengaku badannya meriang. Adul minta dikeroki, mungkin masuk angin katanya. Setelah dikeroki Adul sempat muntah-munta, tapi yang keluar cuma air dan ludah saja. Malam itu badan Adul memang panas, demam. Bahkan disela-sela tidurnya Adul beberapa kali mengigau.

“Aminah tolong aku takut, itu ada apa,” tutur Aminah menirukan Adul.

Esoknya Adul menceritakan pada Aminah kalau ia bermimpi dikejar-kejar orang yang badannya tinggi besar dan wajahnya berewokan menakutkan. Tingginya seperti pohon kelapa dan kulitnya hitam kelam seperti arang. Adul waktu itu mengatakan ia dikejar-kejar buto yang hendak mencekiknya. Makanya ia mengigau takut dan minta tolong.

Sejak malam itu, Adul benar-benar jatuh sakit. Badannya panas tinggi. Anehnya Adul kerap kali melotot seperti orang ketakutan tapi tak bisa bicara atau mengatakan apa yang tengah ia lihat. Hanya tangannya saja yang menggapai-gapai dan matanya yang menyiratkan ketakutan yang luar biasa.

“Saya tidak tahu apa yang dialami Kang Adul, sejak malam itu ia seperti orang bisu tak bisa bicara. Hanya matanya saja yang sesekali melirik seperti memberi isyarat. Badannya panas tinggi hingga keringat membasahi sekujur tubuhnya,” jelas Aminah.

“Saya tidak mengerti apa maksud igauan Kang Adul. Saya sudah tanyakan ustad dan beberapa orang pintar termasuk teman-teman Kang Adul. Tapi mereka tidak ada yang bisa menyembuhkannya,” jelas Aminah lagi.

Malam ketujuh rupanya malam terakhir Adul setelah ia menyembelih dan memakan ayam jago berbulu putih itu. Adul kembali menceracau dalam igauannya. Yang ia katakan hanya ketakutan dan ketakutan. Kemudian ia minta tolong pada istri dan anak-anaknya. Tapi tentu saja Aminah dan anak-anaknya yang ada di situ tak bisa berbuat apa-apa. Adul tak bisa diajak bicara, tak bisa menjawab pertanyaan orang-orang yang mengerumuninya.

Malam itu Adul benar-benar seperti orang yang tengah dikejar-kejar hantu. Di atas tempat tidur ia menceracau ketakutan dan minta tolong. Hanya tangan dan kakinya saja yang bisa ia gerakan sebagai pertanda bahwa ia tengah dalam ketakutan. Peristiwa yang mengerikan dan membingungkan keluarga Adul ini berlangsung hingga sekitar pukul 4 subuh. Setelah itu Adul baru bisa tertidur.

Esok harinya Aminah baru tersadar kalau Adul sebenarnya sudah meninggal. Ia tak tahu jam berapa suaminya menghembuskan nafas terakhir. Baru sekitar jam 7 pagi ia tahu kalau suaminya sudah meninggal dunia. Malam itu menjadi malam terakhir Adul menceracau ketakutan dan minta tolong. Malam itu Adul dijemput buto yang menyamar menjadi ayam jago berbulu putih.

No Responses

Leave a Reply