Siapakah Gerangan Jenglot? (Bagian 3 -Tamat)

Siapakah Gerangan Jenglot? (Bagian 3 -Tamat)

oleh: agus tw

Faktor Kemiskinan, Jenglot Solusi Menjadi Kaya

Hampir 7 tahun Benyamin menjalani kehidupan dengan kondisi yang serba memprihatinkan, dahulunya ia adalah orang terkaya. Tata kehidupannya serba kecukupan, punya mobil, rumah mewah dan barbagai macam jenis perhiasan yang setiap saat menghiasinya. Akan tetapi harta bendanya tersebut hilang dalam sekejap lantaran Benyamin terjerat kasus korupsi.

Kini keseharian Benyamin harus tinggal sendirian di rumah petak peninggalan orang tuanya. Khabarnya, istri dan anaknya justru pergi meninggalkannya karena mereka ingin mencari kehidupanyang lebih baik. Selain itu sifat angkara Benyamin yang juga membuat alasan kenapa anak dan istrinya harus pergi meninggalkan dirinya. Kini hidup Benyamin laksana burung tanpa sayap, nampak memelas.

Pada suatu malam, tepatnya di malam selasa wage, ketika Benyamin sedang termenung sendirian, tiba-tiba ia teringat akan nasehat seorang kakek pernah ia jumpai. Kakek tersebut pernah memberikan nasehat “ Supaya tidak bosan dengan kemelaratan yang terus menerpanya, lebih baik pelihara jenglot, agar segera kaya dan dapat menikmati hidup. Ingat Hidup ibarat koyo mampir ngombe, mung sedelit waktune ning bumi, harus dimanfaatkan sebaik dan sebisa mungkin”  

Entah setan mana yang merasukinya, ingat nasehat kakek-kaket yang pernah di temuainya tersebut, langsung Benyamin bersemangat kembali, ia berusaha menelusuri  pawang jenglot dengan membuka jalur-jalurnya di internet. Hal tersebut dilakukan Benyamin karena ia masih berambisi untuk kembali lagi menjadi orang kaya seperti dulu lagi. Di jalur internet, nampaknya Benyamin telah mendapatkan salah satu alamat  perdukununan yang menyediakan jasa kekayaan via jenglot.

 Singkat cerkita, Benyamin berhasil bertemu dengan seorang dukun yang menyarankan agar dirinya memelihara jenglot. Dengan memiliki jenglot, niscaya Benyamin akan kembali menjadi orang kaya.

“Untuk kembali menjadi kaya, kamu harus memelihara jenglot. Tetapi harus ada syarat yang harus kamu penuhi,” kata sang dukun kala itu.

“Saya ikut dan siap saja mbah, apapun dampak resikonya saya sudah siap.” Kata Benyamin semangat.  

“Peliharalah jenglot ini layaknya anakmu sendiri, kasih dia darah segar sedikitnya seminggu sekali, agar supaya dia tetap hidup,” Kemudian tak lama sang dukun mengambil sesuatu dari balik kain hitamnya, yang ternyata sebuah boneka yang di kenal dengan nama jenglot.

Awalnya nampak, kala itu Benyamin sangat heran dengan benda yang berujud boneka yang bernama jenglot, panjangnya Cuma sekitar 14 cm dan memiliki rambut panjang dan taring di mulutnya luar biasa panjangnya. Idihh….menyeramkan. Akan tetapi lantaran sudah menjadi tekadnya yang bulat, Benyamin dengan rasa tekad dan bersemangat membawa jenglot pemberian sang dukun tersebut pulang ke rumahnya.

Sesampai di rumah, Benyamin segera meletakkan jenglot peliharaannya di tempat yang semestinya. Dan dalam pikirannya, Benyamin berharap agar supaya jenglotnya segera dapat memberikan perubahan statusnya. Yakni, bisa menjadi orang terkaya seperti dulu lagi.

Setiap harinya Benyamin tidak pernah melupakan pesan sang dukun, yakni harus rutin memberikan hidangan kepada jenglotnya berupa darah yang berasal dari darah hewan-hewan yang berasal dari hasil buruan Benyamin sendiri.

Setelah perjalanan waktu, nampaknya berdasarkan amatan Benyamin, rambut dan taring jenglot peliharaannya semakin bertambah panjang, seperti layaknya manusia hidup yang memiliki segala perubahan fisik lantaran faktor usia.

Seiring dengan adanya perubahan Jenglot peliharaannya, nampaknya otomatis ada pula perubahan yang terjadi dengan pola kehidupan Benyamin. Berlahan tapi pasti, nampak Benyamin mulai bangkit kembali. Uang selalu mengalir, akan tetapi ada pula yang meyakini bahwa uang Benyamin berasal dari Jenglot peliharaannya. Kendati demikian toh, Benyamin tak  mau ambil pusing gunjingan orang lain.

 Kini Benyamin kembali sukses seperti dulu lagi, bahkan malah semakin sukses sekarang di banding zamannya dulu. “ Terima kasih Jenglot peliharaanku, engkau telah mengembalikan kesuksesanku dalam hidup ini kembali,” ucapnya sambil tangannya memegang jenglot peliharaannya.

Sejak 4 tahun Benyamin memelihara jenglot, kesuksesan demi kesuksesan selalu berada di pihaknya. Bahkan sekarang ia pindah rumah yang lebih besar dan megah. Di depan rumahnya nampak mobil berbagai merek dan suasana rumahnya selalu terdengar hingar bingar suara musik, canda dan tawa.

Nampaknya, Benyamin sudah lupa daratan akan kesuksesannya, buktinya ia bahkan telah melupakan jenglot peliharaannnya. Kemarahan sang jenglot sudah tidak bisa dibendung lagi. Benyamin lupa memberikan menu sajian sang jenglot, hal inilah yang membuat peliharaannya menjadi murka dan marah kepada dirinya, Benyamin telah melanggar janji dan sumpahnya.

 Suasana rumah Benyamin malam itu sangat mencekam, suara suara aneh dan bau anyir tercium di setiap sudut rumah mewah Benyamin.

Benyamin merasakan takut yang luar biasa, dan ia mulai berjalan menelusuri sambil mencari sumber bau anyir tersebut. Tiba-tiba disudut kamat ia menemukan jenglot peliharaannya. “Lhoo…jenglot ini koq ada disininya, padahal aku menyimpan dan meninggalkannya di rumah orang tuaku, “ kata batin Benyamin kala itu.

Jenglot tersebut kemudian di ambil oleh Benyamin dan diperhatikannya. Nampak ada perubahan dalam diri jenglot peliharaannnya, rambut, badan dan taringnya tidak seperti dulu lagi, kini justru tambah mengecil dan nampak pula badannya mengering.

Ketika Benyamin memperhatikan dengan cara seksama, tiba-tiba jenglot tersebut menerkan Benyamin dan langsung menghisap darahnya hingga habis. Benyamin mati kehabisan darah akibat keteledoran, keserakahannya sendiri.

No Responses

Leave a Reply