Misteri Lampor, Pasukan Kanjeng Ratu Kidul Sang Pembawa Petaka

Misteri Lampor, Pasukan Kanjeng Ratu Kidul Sang Pembawa Petaka

oleh: agus twg

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa tidaklah asing lagi dengan sebutan lampor. Diyakininya, lampor merupakan salah satu jenis makhluk halus yang yang bisa mendatangkan mala petaka. Sementara bentuk sosoknya, masyarakat Jawa memiliki pendapat dan kepercayaan yang berbeda-beda. Beberapa masyarakat ada yang menyebut lampor adalah makhluk halus yang berbentuk seperti bola api, bahkan ada yang menyebutkan lampor kemunculannya berwujud serombongan layaknya prajurit yang siap maju perang. Sementara di wilayah Jawa Timur, lampor dipercaya berwujud pocong atau sejenisnya yang konon bisa membunuh manusia yang sedang lelap tidur.

Menurut para ahli spiritual, secara harfiah, lampor diartikan sebagai hal yang bersifat gaduh atau kegaduhan. Akan tetapi hal ini jika dikaitkan dengan keyakinan mengenai hantu jenis lampor di Jawa Tengah. Konon, kemunculan lampor akan mendatangkan suara suara yang bersifat gaduh.  Kegaduhan tersebut diyakini  adalah suara iring iringan berkuda dari pasukan tentara Kanjeng Ratu Kidul yang hendak menuju ke Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi. Berdasarkan keyakinan masyarakat jawa, lampor juga merupakan pasukan dan anak buah dari sang penguasa laut selatan, yakni Kanjeng Ratu Kidul.

Sementara kepercayaan bagi masyarakat di Jawa Timur, lampor akan memunculkan diri bersamaan dengan adanya wabah pagebluk atau penyakit, dan hal ini biasanya terjadi pada bulan Sapar (penanggalan Jawa). Lampor diyakini akan membunuh manusia dalam tidurnya. Sementara cara kerja lampor adalah, akan mendatangi korbannya pada malam hari, dan langsung mencekik hingga meninggal, bahkan lampor kadang juga membawa korbannya dengan menggunakan keranda. Apabila hal tersebut terjadi maka korbannya akan mati sekitika….wahh seramm.

Kendati demikian, ternyata lampor juga memiliki kelemahan. Masyarakat mempercayai bahwa lampor tidak bisa duduk atau berjongkok. Sehingga korban yang sering kali didatangi adalah calon korban yang biasanya tidur di dipan atau di atas kasur. Konon masyarakat pada malam hari menghindari lampor dengan cara tidur di bawah dipan  atau sekedar tidur di lantai. Dengan demikian dipercaya lampor tidak akan bisa melakukan aksi kejamnya terhadap manusia, mencekik atau membunuh.

Berdasarkan tutur yang beredar di wilayah Jawa, sosok nama lampor sangat dikenal sekitar tahun 1960 an, akan tetapi lambat laun, lampor mulai menghilang. Kini zaman sudah berubah berganti dengan modernisasi, lampor seakan sudah hilang dari pendengaran kita, bahkan anak anak muda sekarang tidaklah mengenl nama lampor. Mungkin isu seputar lampor kala itu muncul akibat banyaknya wabah penyakit yang sedang dialami oleh masyarakat yang menyebabkan seseorang meninggal di dalam tidurnya. Tetapi siapa yang bisa memastikan kalau hal tersebut ulah lampor? Bisa juga lampor hanyalah sekedar mitos, tetapi bisa juga benar adanya.

No Responses

Leave a Reply