Makam Keramat Datuk Gasing Tengkorak Dijaga Ular Siluman Berkepala Dua

Makam Keramat Datuk Gasing Tengkorak Dijaga Ular Siluman Berkepala Dua

Legenda tentang Datuk Gasing Tengkorak adalah bukan hal yang asing bagi masyarakat yang mendiami Bhumy Swarnadwipa. Konon semasa hidupnya ia adalah pengamal ilmu langka, Rawarontek.

Sekitar abad ke 18, Desa Arang-Arang, Kabupaten Batanghari, Jambi, dihebohkan oleh bau busuk yang teramat sangat. Sudah tentu, bau ini menggnggu dan sekaligus membuat resah para penduduk yang tinggal di sekitarnya. Akhirnya warga desa pun berembug, sehingga mendapatkan keputusan, yakni melaporkan hal itu kepada Datuk Sapi’i, tetua desa dan juga sosok yang dituakan di kampung itu untuk bersama-sama mencari sumber bau busuk yang meresahkan warganya itu.

Ketika ia menelusuri hutan yang letaknya tidak jauh dari desanya, ia menemukan sebuah tengkorak kepala manusia yang mengambang berputar di sungai. Ternyata bau busuk itu berasal dari bangkai tengkorak kepala manusia yang mengambang berputar di sungai tersebut. Aneh memang, akhirnya Datuk Sapi’i dengan menggunakan sampan menghampiri tengkorak kepala manusia itu dan mengambilnya. Kemudian ia membuangnya di seberang sungai dengan kehati hatinan.

Keesokan harinya warga desa kembali geger, karena bauk busuk yang kemarin mereka rasakan kini malah justru semakin menyengat, bahkan aroma busuknya sampai ke seuntaro desa bahkan hutan di dekat pedesaan. Untuk itu kembali Datuk Sapi’i memastikan kalau tengkorak itu  tetap berada di seberang sungai. Namun ketika dilihat ternyata tengkorak itu sudah kembali berada di atas air sungai dan kembali berputar-putar seperti ketika pertama kali ditemukan. Datuk Sapi’i kembali mengambilnya dan membuangnya ke seberang sungai.

Namun keesokan harinya tengkorak itu sudah kembali lagi berada di atas air sungai dan kembali berputar seperti semula. Hal ini terjadi sampai berulang ulang dan membuat pusing seluruh warga desa. Akhirnya Datuk Sapi’i bersemedi dan mendapatkan wangsit untuk mengubur tengkorak kepala manusia itu di sebelah sungai. Karena setiap dijumpai tengkorak kepala manusia itu selalu berputar. Datuk Sapi’i kemudian menyebutnya Datuk Gasing Tengkorak. Hal itu dikarenakan tengkorak kepala manusia tersebut selalu berputar seperti gasing.

Akhirnya hingga kini nama itulah yang digunakan untuk menyebutkan makam tengkorak kepala  manusia yang selalu berputar tersebut. Makam ini terletak dipinggiran sungai tempat dia selalu berputar. Setelah itu tidak lama kemudian Datuk Sapi’i meninggal dunia diusianya yang ke 125 tahun.

“Kini makam Datuk Gasing Tengkorak sangat dikeramatkan selain makam Datuk Sapi’i sendiri,” tutur M. Shomad juru kunci makam Datuk Gasing Tengkorak.

Setelah itu keadaaan desa Arang-Arang kembali tenang. Seiring dengan itu jati diri Datuk Gasing Tengkorak mulai terungkap. Datuk Sapi’i yang menguburkannya mendapatkan wangsit, bahwa Datuk Gasing Tengkorak adalah seorang yang menguasahi Ilmu Aji Rawa Rontek, atau yang di daerah Jambi disebut dengan Ilmu Tembun Jati. Jika tubuh dan kepalanya disatukan kembali maka dia akan hidup kembali.

Konon, tubuh Datuk Gasing Tengkorak dikuburkan di daerah Padang Sumatra Barat. Menurut penuturan M. Shomad yang telah melakukan beberapa kali kontak gaib dengan arwah misterius tersebut, Datuk Gasing Tengkorak ini adalah seorang pejuang dari Padang. Dalam kontak gaib itu ia mengaku bernama Datuk Ahmad dari desa Pinggai Padang. Mengenai kepalanya yang dipisahkan dengan badannya memang ada unsur kesengjaan.

Karena kalau tidak dipisahkan maka ia akan hidup kembali dan kembali menjadi seorang pejuang. Masih menurut M. Shomad, Datuk ini kemungkinan menguasahi ilmu Tembun Jati. Ilmu ini memang sangat langka dan hanya orang orang pilihan saja yang mampu menguasahi ilmu tersebut.

“ Berdasarkan kepercayaan, pemilik ilmu Tembun Jati hanya bisa mati jika yang membunuh dalah saudara seperguruannya sendiri,”  kata M. Shomad.

Sedang cara membunuhnya harus dilakukan pada saat bayangan badannya tepat berada di bawahnya atau kurang lebih ketika matahari tepat berda diatas kepala. Setelah mati badannya harus dikuburkan terpisah dengan kepalanya. Selanjutnya kepalanya harus dihanyutkan ke sungai. Kepercayaan itulah yang membuat warga desa Arang-Arang yakin bahwa Datuk Gasing Tengkorak memang menguasahi ilmu Tembun Jati atau Rawarontek.

Masyarakat juga percaya kalau makam Datuk Gasing Tengkorak berjumlah empat buah. Yang semuanya terletak di Padang, akan tetapi letaknya terpsah pisah. Sedangkan yang ada di Jambi ada satu yang bisa di jumpai. Yaitu berada di tepi sungai desa Arang-Arang, Kecamatan Kempe Ilir, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi. Untuk mencapai desa ini dibutuhkan waktu sekitar 1 jaman dari kota Jambi dengan perjalanan mnggunakan sepeda motor.

Kemudin perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki yang membutuhkan waktu berjam-jam lamanya. Selain tempatnya yang jauh dari perkampungan, peziarah juga harus melewati medan yang sangat sulit dan terjal. Kemudian harus dilanjutkan dengan mnggunakan sampan untuk menyebrangi sungai hingga sampailah ke makam Datuk Gasing Tengkorak. Menurut si empunya cerita, makam ini sangat dikeramatkan serta dapat memberikan berkah kepada si peziarah.

Sehingga pada hari hari tertentu makam keramat ini sering dikunjungi oleh pengunjung pengalap berkah. Walaupun harus melaljui medan yang sulit, tetapi peziarah tetap antusias  dapat mencapai tujuannya, yakn makam i makam keramat Datuk Gasing Tengkorak. Oleh juru kunci disarankan, lantaran medannya yang sulit dan agar tidak tersesat diharapkan pengunjung datang pada siang hari. Selain itu di hutan juga banyak serangga pacet yang suka menghisap darah manusia.

Setelah sampai di makam, saat melakukan ritualnya ternyata peziarah juga masih banyak mendapatkan kendala atau cobaan. Konon, makam keramat ini juga di jaga oleh ular siluman berkepala dua yang senantiasa menjaga makam Datuk Gasing Tengkorak dari para tangan tangan jahil. Kendati demikian toh tetap tidak menyurutkan para pengalap berkah untuk menjalankan rutual di makam tersebut.

“Saya pernah menjumpai seekor ular sebesar pohon kelapa berkepala cabang dua di makam ini saat sedang bersemedi,” tutur M. Shomad.

Penunggu gaib yang berwujud ular raksasa berkepala dua ini memang menjadi salah satu ujian bagi para peziarah yang ingin berhubungan langsung dengan arwah Datuk Gasing. Selain siluman ular ternyata juga ada penunggu gaib lainnya, yakni seekor harimau siluman. Dan harimau siluman inilah yang sering dimintai pertolongan jiga ada peziarah yang tersesat di dalam hutan. Pada saat saat tertentu harimau siluman ini sering memunculkan diri di hadapan peziarah. Selain di jaga oleh ular dan harimau siluman, memang makam ini juga memiliki kesan angker dan keunikan.

Bentuknya hanya kecil dengan nisan yang terbuat dari kayu yang kini telah membatu. Yng lebih aneh lagi meskipun makam ini terletak di tepi sungai namun tidak pernah terkena air sungai yang terkadang meluap. Walaupun air sungai sempat meluap, namun anehnya air sungai tidak pernah bisa mendekati dan menyentuh makam.

“ Yahh…paling air hanya mengalir disekitarnya makam saja. Seakan akan di sekeliling makam ini di selimuti oleh pagar gaib,” kata M. Shomad.

Nah, itulah sekelumit kisah Sosok Datuk Gasing Tengkorak yang hingga kini masih menyimpan sejuta misteri. Kendati demikian penduduk desa Arang Arang tetap sangat menghormatinya sebagaimana menghormati tokoh tetua desanya Datuk Sapi’i…

No Responses

Leave a Reply