Kisah Perkawinan Agung Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga

Kisah Perkawinan Agung  Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga

Kisah perkawinan agung antara Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga ini bisa jadi hanya merupakan legenda tutur semata. Karena menurut fakta sejarah yang sebenarnya, sunan Kalijaga hanya menikah dengan Dewi Saroh, putri dari Maulana Ishaq. Dari pernikahan keduanya dikaruniai putra dan puteri yakni Raden Umar Said (Sunan Muria), Dewi Rakayuh dan Dewi Sofiah.

Dalam kisah perkawinan agung Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga ini disebutkan pula bahwa Sunan Gunung Jati adalah guru dari Sunan Kalijaga. Padahal, menurut sejarah Wali Songo, guru Sunan Kalijaga adalah Sunan Bonang, yang mempunyai nama asli Raden Makdum Ibrahim. Beliau merupakan putera Sunan Ampel dengan istrinya Nyi Ageng Manila. Ibunya merupakan anak pembesar, yaitu puteri dari seorang Adipati (Bupati) Tuban.

Sementara itu relasi antara Sunan Gunung Jati dan Prabu Siliwangi tercatat dalam fakta sejarah sebagai cucu dan kakek. Nama asli beliau adalah Syarif Hidayatulloh. Ayahnya bernama Syarif Abdullah, seorang bangsawan Mesir  yang menikahi Nyai Lara Santang, putri Prabu Siliwangi. Nyai Lara Santang diubah namanya menjadi  Syarifah Mudaim sejak menikah dengan Syarif Abdullah. Sepeninggal ayahnya sekitar usia 20 tahun, Syarif Hidyatullah pulang ka tanah leluhurnya dan berhasil  menyebarkan Islam di Jawa Barat. Sebelumnya beliau mendirikan kesultanan Cirebon dan dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Kisah perkawinan agung Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga ini berawal dari sebuah peperangan antara Prabu Siliwangi dan Sunan Kalijaga sebagai utusan dari Sunan Gunung Jati. Awal kisah, Prabu Siliwangi yang merupakan Raja Pajajaran tidak menerima dirinya diislamkan oleh Sunan Gunung Jati.

Kala itu terjadi benturan amat hebat antara dua kepercayaan yang sama-sama kuat di masyarakat yaitu Islam dan Hindu. Inilah yang menyebabkan perang saudara terjadi antara Prabu Siliwangi yang terkenal sakti mandraguna dengan pasukan dari kerajaan Cirebon.

Dalam peperangan itu, diutuslah Pangeran Arya Kemuning, Dewi Nyimas Gandasari serta Nyimas Roro Kencono Wungu untuk menaklukkan kesaktian Prabu Siliwangi. Mereka ternyata gagal. Karena itu akhirnya Sunan Kalijaga diutus untuk menghadapi sang Prabu Siliwangi. Namun lagi-lagi, Cirebon kalah.

Kisah Sunan Kalijaga dengan Nyi Roro Kidul, atau yang bernama asli Dewi Nawang Wulun, pun berawal dari sini. Syahdan, sesungguhnya Dewi Nawang Wulan merupakan anak d Prabu Siliwangi dari istri keduanya, Ratu Palaga Inggris.

Sunan Gunung Jati mendapatkan petunjuk atau ilafat bahwa untuk menaklukkan Prabu Siliwangi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan Tombak Karera Reksa. Ini adalah tombak sakti milik Nyi Roro Kidul.

Diutuslah Sunan Kalijaga untuk menemui Nyi Roro Kidul guna mendapatkan tombak sakti itu. Saat bertemu Sunan Kalijaga, perasaan cinta di hati Nyi Roro Kidul mualai bersemi. Rupanya, sejak lama Nyi Roro Kidul menyimpan rasa cinta pada Sunan Kalijaga.

Pertemuan ini dijadikan kesempatan oleh Nyi Roro Kidul untuk memikat Sunan Kali Jaga. Dia berpura-pura menolak meminjamkan tombak sakti Karera Reksa, dengan dalih terlebih dahulu meminta untuk dipertemukan dengan sang raja panatagama, sebutan Raja Cirebon yakni Sunan Gung Jati.

“Baiklah jika itu yang menjadi syaratnya maka akan aku lakukan,” tegas Sunan Kalijaga.

Singkat cerita, Sunan Kalijaga membawa Nyi Roro Kidul ke hadapan Sunan Gunung Jati. Tersenyumlah Sunan Gunung Jati melihat kehadiran Nyi Roro Kidul, sebab ia sudah tahu isi hati perasaan ratu cantik itu terhadap Sunan Kalijaga.

“Wahai putri Prabu Siliwangi, cuma dikau yang dapat menaklukkan kesaktian Ayahandamu. Pinjamkanlah Kalijaga pusakamu Tombak Karera Reksa,” kata Sunan Gunung Jati saat mereka berdua di kaputren.

“Ampun Gusti Susuhunan Panatagama, saya cuma memberi pusaka itu pada suamiku kelak,”

Mendengar jawaban itu Sunan Gunung Jati tersenyum, sambil kemudian berkata, “Baiklah, aku sendiri yang akan memilihkan suami untukmu.”

Sesaat kemudian Sunan Gunung Jati mengundang Sunan Kali Jaga untuk masuk kaputren, lalu berkata, “Wahai Rayi Kalijaga, sebenarnya tidak ada yang lebih mulia terkecuali berdasar pada keagungan syiar Islam. Menikahlah dengannya (Ratu Kidul) atas nama Islam serta bukanlah lantaran nafsu.”

Atas perintah itu maka Sunan Kalijaga patuh dan menerimanya. Sebab beliau menganggap Sunan Gunung Jati adalah gurunya.

Singkat kisah, hubungan  Sunan Kalijaga dengan Nyi Roro Kidul siap berlanjut ke jenjang pernikahan. Namun sebelum pernikahan terjadi, Nyi Roro Kidul mengajukan sebuah syarat sebagai maharnya.

“Ampun Gusti Panatagama, untuk kemaslahan penghuni laut Selatan, sangatlah pantang menerima seseorang suami tidak ada satu ikatan bathin sebagai mahar. Saya mengajukan mahar kepada calon suamiku yaitu Tasbih Kecubung Wulung yang didatangkan dari laut merah.”

Syarat yang tak dapat ditawar lagi. Sunan Gunung Jati pun meminta muridnya untuk memenuhi syarat mahar tersebut.

“Demi kesentosan di bumi ini, kau harus secepatnya memenuhi syarat mahar calon isterimu itu Rayi Kali Jaga,” tegasnya memberi titah.

Dengan bertawakal kepada Allah SWT, Sunan Kalijaga menyanggupinya. Hingga tiba pada hari yang telah ditentukan, beliau pun pergi ke gunung Ciremai untuk bertafakkur serta meminta perlindungan dan petunjuk Allah SWT.

Syahdan, pada malam ke 4 tafakurnya, Sunan Kalijaga mendapat sebuah isyarat yang tidak diketahui pasti dari mana datangnya. Suatu ilafat mengatakan bahwa akan tiba seorang yang menuntunnya untuk menunjukkan di mana Tasbih Kecubung Wulung berada. Pada malam terakhir riyadhohnya itulah datang 3 sosok bangsa lelembut masing-masing bernama Sanghyang Raja Sonto, Sanghyang Ratu Sanggah dan Sanghyang Sihwalikat.

Ketiga bangsa lelembut itu membawanya ke tepian laut merah. Kedatangan mereka disambut oleh pendamping gaib Ratu Bilqis. Atas ini permausiri agung Raja Sulaiman ini diberikanlah sebuah Nur Nabi Sulaeman AS berwujud peti kayu berukir yang berasal dari alam azrak.  Di dalam peti ini berisi Tasbih Kecubung Wulung yang sakti berbahan batu kecubung giok..

Setelah mendapatkan Tasbih Kecubung Wulung, maka kembalilah Sunan Kalijaga menemui gurunya, Sunan Gunung Jati. Tasbih Kecubung Wulung dipersembahkan sebagai mahar perkawinan dengan Nyi Roro Kidul.

Dengan mahar ini, Sunan Gunung Jati kemudian menikahkan Sunan Kalijaga dan Nyi Roro Kidul. Setelah resmi menikah, maka sesuai perjanjian, Nyi Roro Kidul harus menyerahkan Tombak Karera Reksa kepada Sunan Kalijaga yang telah menjadi suaminya.

Setelah mendapatkan Tombak Karera Reksa, Sunan Kalijaga segera menghadap Sunan Gunung Jati. Tombak itu diserahkan kepada sang guru. Oleh Sunan Gunung Jati, pusaka itu diberi tambahan satu tombak di atasnya, atau disatukan dengan satu tombak lagi, sehingga pusaka Karera Reksa yang semula memiliki 7 cabang serta satu jalu atau taji runcing disamping, berubah menjadi 9 cabang. Namanya pun diubah menjadi Tombak Pusaka Agung Buana Nirwana Cakra Langit.

Dengan pusaka Cakra Langit inilah pada akhirnya Prabu Siliwangi dapat ditaklukkan oleh Sunan Kalijaga. Keduanya melakukan perang tanding sepanjang 7 malam berturut-turut.

Syahdan, setelah digunakan untuk menaklukan Prabu Siliwangi,  tombak pusaka Buana Nirwana Cakra Langit ini akhirnya dimusiumkan di keraton laut Pantai Selatan. Pusaka ini menjadi bukti ikatan cinta antara Nyi Roro Kidul dan Sunan Kalijaga.

Demikian kisah percintaan antara Sunan Kalijaga dan Nyi Roro Kidul. Sebuah perkawinan yang sebenarnya hanya bertujuan untuk menaklukkan Prabu Siliwangi. Konon, Nyi Roro Kidul menyadari bahwa penaklukan ayahnya itu membuat peperangan antar saudara tidak dapat dielakkan lagi. Namun, sang ratu juga percaya bahwa ini adalah rangkaian takdir yang tak dapat dihindari. (Aey)

No Responses

Leave a Reply