Bangkawan, Rumah Tradisi Penyimpan Tengkorak

Bangkawan, Rumah Tradisi Penyimpan Tengkorak

Penulis: Agus TW

Negeri Indonesia didiami oleh berbagai macam suku yang memiliki keragaman keunikan budaya yang saling berbeda. Suku Jawa, Sunda, Minang dan sebagainya. Kendati demikian toh tetap satu kesatuan, yakni, Indonesia. Seperti halnya dengan suku Dayak yang mendiami di wilayah Kalimantan. Rumpun suku Dayak memiliki budaya yang saling berbeda, suku Dayak yang berada di kalimantan Timur, Tengah, Selatan dan Utara. Mereka memiliki tradisi yang berbeda, seperti upacara, cara berperang hingga ngayau atau berburu kepala manusia serta kebiasaan kehidupan sehari harinya.

Dari berbagai rumpun suku Dayak yang berada di wilayah Kalimantan tersebut, ada salah satu kelompok suku Dayak yang memiliki tradisi yang sangat unik dan menarik. Suku ini memiliki kebiasaan membangun Bangkawan atau yang lebih dikenal dengan rumah tengkorak. Didalam Bangkawan, tengkorak manusia akan disimpan selama dibutuhkan dan merupakan simbol keberuntungan.

Suku yang memiliki Bangkawan atau rumah tengkorak tersebut adalah Dayak Dusun. Suku ini berdomisili di bagian wilayah utara Kalimantan dan sebagain berada di wilayah Sabah, Malaysia. Setiap desa yang dihuninya,  Dayak Dusun memiliki rumah rumahan kecil yang letaknya di bagian depan. Rumah kecil tersebut disebut dengan nama ragas atau kinodou yang memiliki banyak fungsi.

Siapa saja bisa melihat tengkorak yang dipindahkan dari rumah-rumahan di bagian depan. Semakin banyak tengkorak yang dijadikan simbol dari kebanggaan pahlawan dari desa, semakin kuat pula kekuatan mereka untuk mengalahkan musuh yang banyak. Artinya, Bangkawan merupakan simbol kehebatan yang harus dimiliki oleh desa.

Konon, menurut cerita, tengkorak yang berada di Bangkawan diawali dengan adanya kegiatan ngayau atau berperang. Pahlawan atau petarung dari rumpun suku akan melakukan prosesi di medan perang. Musuh yang sudah berhasil dikalahkan akan dipenggal kepalanya. Setelah itu akan dikembalikan ke desa sebagai bukti kemenangannya, dan peristiwa kemenangan terebut pantas untuk dirayakan dengan suasana meriah.

Adat kebiasaan yang terjadi, saat pahlawan desa atau kobilang datang, akan disambut oleh para gadis desa dengan rasa penuh suka cita. Setelah itu para pahlawan akan diterima oleh kepala suku. Nah disinilah akan diselenggarakan upacara ritual pemeliharaan sial. Arwah atau bantuan jahat yang ada di saat peperangan bisa dibawa, jadi pahlawan akan masuk ke dalam desa dalam kondisi bersih atau suci.

Guna dan manfaat utama Bangkawan adalah untuk keberkahan desa mereka. Tengkorak-tengkorak tersebut dipertimbangkan memiliki sebuah kekuatan yang sangat besar. Dimana kekuatan tersebut akan membuat desa mereka selalu aman dari berbagai gangguan dari pihak musuh. Apabila ada musuh yang mencoba berusaha mendekat, tengkorak ini akan siap menghadang dengan memberikan tipuan suara-suara yang menyeramkan.

Pembangunan rumah tengkorak ini selain sebagai simbol keselamatan, juga diyakini sebagai makna keberkahan. Penduduk desa akan merasa aman dan tentram, banyak rejeki, dan pengelolaan lahan pertanian yang mereka kerjakan bisa berjalan dengan baik. Konon, tanpa adanya Bangkawan, hasil panen dari pertanian mereka akan gagal, banyak wabah penyakit yang akan menyebabkan banyak kematian.

Pada saat pulang dari medan perang dan berburu, rupanya semangat para pahlawan desanya akan sedikit mengendor. Hal ini terjadi karena kekalahan yang mereka alami atau karena mereka menentang tempelan roh jahat. Untuk kembali membangkitkan semangat juang mereka, beberapa suku yang mengonsumsi otak dan jantung sebagai pemicu semangat yang awalnya mulai mengendor.

Semangat juang ini bagi suku Dayak Dusun sangatlah penting, jika semangat mereka kendur dan para pahlawan mereka ini takut untuk maju perang, kesialan akan datang dengan bertubi-tubi. Oleh sebab itu, saat mereka pulang dari medan laga, akan diundang dengan penyelenggaraan upacara ritual mengisi kepala di Bangkawan agar supaya semangatnya tetap aman.

Untuk saat ini, kemungkinan Bangkawan masih ada dan tetap dilestarikan. Akan tetapi tradisi peperangan dan berburu kepala kemungkinan sudah agak banyak berkurang.

No Responses

Leave a Reply